Meski Rindu 'Rimba', Begini Antusias Bagentar Masyarakat SAD Jajal Perkotaan Demi Sekolah Kepemiluan
|
Meski Rindu 'Rimba', Begini Antusias Bagentar Masyarakat SAD Jajal Perkotaan Demi Sekolah Kepemiluan
Jambi, Badan Pengawas Pemilihan Umum – Kisah Bagentar, salah satu Masyarakat Adat Suku Anak Dalam (SAD), antusias dalam menjajal sekolah ke-Pemiluan di Kota Jambi.
Ragam kisah seseorang dalam menimba ilmu, guna menambah khazanah pengetahuan. Tak terkecuali, Bagentar salah satu masyarakat adat SAD asal Tanah Garo, Kabupaten Tebo.
Tak ayal, pria berusia 35 tahun ini menjadi pamungkas dalam Sekolah Kader Pengawas Partisipasi Bawaslu Provinsi Jambi. Benar saja, Bagentar terpilih dari ratusan peserta sebelumnya, usai diseleksi di tingkat Kabupaten/Kota.
Tak sungkan-sungkan, salah satu tenaga pengajar di lingkungan SAD ini menuturkan, dirinya menaruh harapan besar pada proses Pemilu mendatang. Bilangnya, agar masyarakat SAD dapat dilibatkan langsung sebagai penyelenggara Pemilu.
"Awak maunyo, Suku Anak Dalam biso dilibatkan jadi penyelenggara. Apokah itu KPU (KKPS, Red) atau Bawaslu (Panwas TPS). Jadi tentangan, pelanggaran biso kami nang (yang) menangani dilingkungan kami," ungkap Bagentar, menggunakan bahasa daerahnya, Jumat (08/10/2021).
Pria yang aktif sebagai Pengajar di pemukiman SAD ini menambahkan, selama ini pihaknya mengalami kendala jarak tempuh dalam mengikuti Pemilu.
Betapa tidak, Bagentar beserta ratusan warga SAD kawasan Tanah Garo, yang sebagian besar masih bermukim di Hutan Adat, menempuh jarak kurang lebih 2 jam untuk menggunakan hak pilihnya di TPS.
"Jauh 2 jam naik motor ke TPS desa. Sanak-sanak lainnyo, idak semua punyo kendaraan. Dan jugo, idak semua masyarakat SAD biso komunikasi dengan orang luar. Jadi, awak biso sebagai penyambung lidah masyarakat SAD," tambahnya.
Meski Kangen Dengan Rimba Tetapi Tetap Semangat
Sebagaimana diketahui, Suku Anak Dalam merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Dimana, sebagian besar warganya masih bermukim dan beraktivitas di hutan atau 'Rimba'.
Tak terkecuali, sosok ayah dari 4 orang anak ini masih memegang teguh adat tersebut. Tak ayal, selama mengikuti kegiatan di perkotaan dan sepekan tinggal di sebuah hotel, Ia memiliki cerita tersendiri. Dimulai dari adaptasi dengan ruangan ber-Ac, dan menyesuaikan pada konsumsi makanan.
Kendati demikian, Ia mengaku, memiliki semangat dan harapan besar untuk memajukan wilayah masyarakat adat di bidang ke-Pemiluan.
"Dingin nian udaranyo, awak idak tahan. Awak jugo biasonyo kalau didalam, idak makan daging ayam, idak masuk. Tapi, dakpapo kito harus semangat, biso berbagi ilmu waktu balek nanti," tukasnya.
Kisah menarik lainnya, Bagentar ternyata menyimpan kerinduan untuk kembali ke Rimba, saat berkegiatan selama sepekan di perkotaan. Yang mana, disela kesibukannya mengajar baca tulis bagi anak-anak SAD , Ia juga memiliki rutinitas berkebun.
"Kalau rindu, yo pasti rindulah. Biasonyo, awak biso main-main dihutan, menjala, manjat, memasang jerat. Nah, sebulan itu jugo minimal 8 kali mengajar baca tulis samo anak-anak." tutupnya.
Untuk diketahui, Bagentar terlibat aktif sebagai tenaga pengajar bagi masyarakat SAD, bersama salah satu Non Government Organization (NGO) dan Pemerintah setempat.
Lantas, masihkah kita bermuram durja dalam menuntut ilmu, sementara diluar sana banyak yang tak mendapatkan kesempatan tersebut. Bagentar, si Jawara SKPP 2021 Bawaslu Provinsi Jambi. (*)
Sumber : Hasil tulisan berita dari kelompok lima peserta SKPP Tingkat Menengah Provinsi Jambi